JATUH BANGUN MENGEJAR PTN
Halo Readers!! Selamat datang di blog terbaru saya.
Disini siapa sih yang tidak ingin masuk PTN impian?Baik Dalam negeri maupun Luar Negeri. Perguruan Tinggi yang kita impikan, yang menjanjikan suatu masa depan, yang di elu-elukan semua orang? Yang dijunjung tinggi oleh orang-orang? Tentu saja! Kita semua pasti punya satu atau bahkan beberapa Perguruan Tinggi yang menjadi impian kita, begitupun saya. Dan inilah kisah saya mengejar PTN impian sampai jatuh bangun tanpa menyerah.
Hai nama saya Sabrina Syahira Hasan, teman-teman bisa memanggil saya dengan nama Sabrina ataupun Bina. Saya merupakan mahasiswi baru dari jurusan Ilmu Komunikasi, Universitas Pamulang. hah? Kok Unpam? Unpam kan bukan salah satu PTN di Indonesia? Iya benar! Saya akan bercerita kenapa saya bisa berakhir belajar di Universitas Pamulang.
Saya lahir di Kota Serang pada tanggal 14 Oktober 2004. Saya merupakan lulusan SMK Jurusan Otomatisasi Tata Kelola dan Perkantoran, bidang prodi Administrasi Perkantoran di salah satu SMK yang terletak di Kota Serang. Selama duduk di bangku SMK saya bercita-cita ingin berkuliah di salah satu PTN di Indonesia. Perguruan Tinggi ini biasa disebut dengan julukan "Kampus Biru". Apakah ada yang tahu itu universitas apa? Kampus ini terletak di Daerah Istimewa Yogyakarta atau lebih tepatnya di daerah Bulaksumur, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Kampus ini mempunyai nama Universitas Gadjah Mada atau biasa dikenal dengan UGM si Kampus Biru. Harapan saya sangat besar untuk bisa masuk UGM, dan saya hanya ingin masuk UGM melalui jalur undangan.
Saat itu ada wabah yang bernama Covid-19 atau yang kita kenal dengan wabah Corona. Wabah ini membuat gentar 1 dunia termasuk Indonesia. Semua aktifitas diliburkan, yang bekerja harus melakukan WFH (Work From Home) dan yang bersekolah harus melaksanakan pembelajaran secara daring (online). Saya pun merasakan pembelajaran secara daring, saya mencoba aktif walaupun pembelajaran secara daring tidaklah kondusif, tapi itu tidak menyurutkan semangat saya untuk belajar sungguh-sungguh demi bisa tembus PTN dengan jalur undangan.
Saya kira pembelajaran secara daring tidaklah kondusif, namun nyatanya berkat daring saya bisa memperoleh peringkat 1 dan juga 2 selama kurang lebih 2 tahun, saya semakin semangat untuk mempertahankan prestasi saya demi PTN impian saya. Tepat kelas 12, SNBP mulai dibuka saya mulai-mulai cemas dengan hasilnya dan alhamdulillah usaha tidak akan mengkhianati hasil. Saya termasuk ke dalam siswa eligible yang bisa daftar SNBP lewat jalur nilai. Saya bersyukur sekali akhirnya usaha saya tidak sia-sia, saya semakin dekat dengan impian saya.
Namun tak sampai situ saja. Ternyata tepat ditanggal 30 Maret 2023, saya mendapatkan warna cinta, ya warna merah yang berarti gagal. Perasaan saya campur aduk, mau nangis tapi nangis ke siapa? Mau marah tapi marah ke siapa? Mau menyalahkan tapi menyalahkan siapa? Pikiran saya buntu, rasanya semua kerja keras saya sia-sia, semua usaha saya tidak menjamin apapun, semua doa saya tidak ada yang dikabulkan. Saya bertanya-tanya dengan Tuhan. Kurang apa saya? Kurang usaha apa saya? Kurang ikhtiar seperti apa saya?. Tetapi untungnya saya mempunyai keluarga yang supporting, yang mendukung apapun keputusan saya. Saya tidak pernah mau mencoba UTBK karena saya tau kemampuan kapasitas otak saya. Tapi Orang tua saya menyuruh saya untuk mencoba jalur lain yaitu UTBK atau SNBT.
Lalu dengan tekad yang kuat dan semangat yang membara saya rajin belajar, belajar untuk persiapan secara mandiri, saya tidak mengikuti bimbel atau kelas-kelas diluar sekolah karena waktunya yang sangat dekat dengan Ujian Kompetensi SMK saya. Saya hanya mengandalkan beberapa video materi yang berasal dari Youtube, tiktok dan Google. Saya belajar persiapan UTBK secara mandiri.
Dan ternyata jatuh sekali lagi harus saya rasakan. Jika kalian bertanya bagaimana perasaan saya? Kecewa? Sedih? Marah? Tidak! Jawabannya saya tidak merasakan marah dan sedih saat tau hasilnya adalah kata "SEMANGAT" bukanlah "SELAMAT" Kenapa? Karena saya sudah tau kapasitas otak saya, sudah tau bidang saya apa, sudah tahu kelemahan saya berada dimana. Jika ditanya apakah saya kecewa? Jelas! Jawaban saya kecewa, siapa yang tidak kecewa gagal masuk PTN? Pasti! Pasti semua orang akan kecewa ketika gagal masuk PTN apalagi PTN impian. Namun saya sadar keinginan hanyalah sebuah keinginan. Belum tentu keinginan kita adalah yang terbaik? Bisa saja hal yang tidak pernah terpikirkan oleh kita malah itu menjadi hal yang terbaik buat kita?.
Sama seperti saya yang menganggap PTN itu adalah Perguruan Tinggi terbaik tanpa memandang kalau PTS juga suatu Perguruan Tinggi yang baik juga. Saya sadar mau dimanapun kita belajar, semua Perguruan Tinggi menjanjikan sebuah masa depan. Masa depan yang cemerlang, yang gemilang dan cerah untuk kita. Mau sebagus apapun universitasnya, mau sebaik apapun di Dunia jika kita bersungguh-sungguh semua akan tercapai. Kisah ini saya bagikan agar teman-teman sadar kalau tidak semua keinginan kita akan bisa diraih. Usaha tidak mengkhianati hasil itu memang benar adanya, namun jika hasilnya belum sesuai jangan patah semangat, bisa saja usaha kita ternyata masih kurang daripada orang diluar sana.
Dan jika ditanya apakah saya menyesal telah mencoba segala upaya untuk mengejar PTN? Jawabannya tidak! Karena bagi saya Pengalaman adalah guru yang terbaik!.
Saya Sabrina Syahira, pamit undur diri. See you di blog berikutnya.
Comments
Post a Comment